Postingan

Kutemukan Lembayung Bersama Cinta

Gambar
Neptunus , vega Hati yang tulus , cinta Penantian tetaplah penantian. Bukan pelarian, perpisahan ataupun pertanian. Hati ini bukan berarti bisu, bukan berarti pula ada lakban hitam yang sengaja menutup rapat-rapat. Mungkin saat itu, bukanlah saatnya untuk menjebol permukaan yang tertutup rapat begitu saja. Setelah akhirnya kemarin, duri mawar yang sengaja di potong berhasil memasuki ruang tersebut. Bersama malam dan sandal jepit dengan pisang tutung berbumbu pelangi. Seperti labirin mungkin. Memusingkan dengan jalan buntu dan jebakan yang tidak terjual terpisah. Itulah teka-teki, itulah kehidupan bak layaknya sebuah permainan. Siapa yang mengira kini aku bisa duduk, berdiri, belajar, dan berbicara disini. Aku memasuki ruang dunia pertanian, lengkap dengan caping hias dan jas lab yang kuaangap suci karena putih. Kehidupan, itulah kehidupan. Memusingkan seperti labirin. Menyenangkan seperti ontang-anting. Dan menyegarkan seperti ayu ting-ting. Pertanian memperkenalkan aku denga...

What Your Passion ?

Passion it's not Fashion right ?  Kalau kata orang, passion itu satu hal yang kalau kita kerjain itu, gak ada capenya. Enjoy, begitulah. Sampe lupa waktu. Asal jangan sampe lupa Syahadat, Sholat, Zakat, Shaum, dan Haji. Apa ada orang yang passionnya nepakin nyamuk di kamar ? mungkin aja.  Lalu apa passion-mu ? mancing kah ? nulis, main, shoping, game online, ataukah ngajar ? that's right. Disitulah passion-mu sebenarnya. Ketika kamu merangkai kata sampai lupa waktu atau bahkan dengerin lagu sampai nangis, yaa mungkin itulah passion-mu. Pasion mungkin sama artinya sama hobi. Disaat kamu suka melakukannya, maka kamu akan terus melakukannya. Tak peduli apa yang ada di depanmu. Bahayakah atau semacamnya. Tapi jangan sampai passion-mu itu menikah. Nanti kacau jadinya. Passion yang sering kita abaikan atau tak tahu menahu apa maknanya, seringkali terlupakan. Padahal, bisa jadi passion-mu itu jadi tulang punggung kehidupanmu. Everything it's possible. Banyak orang yan...

Ini semacam sedang mencari jati diri..

Akhir-akhir ini aku sedang merasakan galau orang bilang. Sedang merasa sedih terhadap diri sendiri. Sedang tak mengerti diri sendiri. Semua gara-gara cinta. Cinta membuatku rindu pada seseorang. Cinta membuatku takut bilang kalau aku merindukannya. Cinta membuatku takut nangis, dan takut jatuh, jatuh cinta. Sedang marah terhadap diri ini. Sedang mencari jati diri. Padahal udah tahap remaja akhir. Seharusnya, ini bukan saatnya galau karna urusan cinta. Tapi kalau mau galau juga karna urusan yang lebih logis. Ya lebih baik lagi kalau gaada kata galau-galau. Sebenarnya, galau itu apa sih?  Ini bukan tentang cinta. Tapi tentang perasaan yang aneh. Andai saja ada kamus tentang hati, aku beli berapa pun harganya. Sulit untuk menafsirkan perasaan. Yang jelas aku ingin bertemu, entah bertemu siapa. Aku ingin berteriak, tapi malu. Kalau teriak di bantal gak puas. Aku ingin terbang, naik pesawat biar keren. Aku ingin, dia berada disampingku. Bagaimanapun caranya aku menyembunyik...

"Aku hampir mati"

T ak ada pesta, kue, dan lilin. Bandung, di tanggal 4 Oktober tahun 2014. 17 tahun sudah aku bernafas di bumi ini. Dunia yang ingin kusebut indah. 17 tahun sudah aku hidup di dunia ini bersama orang-orang yang ingin kusebut keren. Tak ada pesta melainkan suara kumandang takbir dari masjid depan rumah. Malam ini bertepatan dengan malam takbiran. Dimana besok, para manusia melaksanakan sholat ied dan hewan-hewan Qurban siap disembelih. Sampai jumpa wahai kambing, sapi, dan unta di Arab sana. Dan hai! untuk diriku yang berumur 17 tahun. Aku yang sudah boleh membuat katepe dan sim. Aku yang bertambah tua di dunia. Dan aku yang berkurang kuota untuk hidup di dunia. Aku hampir mati. 17 tahun. Sweet Seventeen orang bilang. Dimana hari ini, Sabtu, bertepatan dengan diriku yang baru keluar dari rahim seorang bidadari 17 tahun yang lalu. Ya, sesosok malaikat yang disediakan Allah untuk menjagaku di dunia. Sesosok super hero yang siap membantuku disaat aku terjatuh kesakitan. Sesosok bidada...

Untukmu wahai makhluk yang kurindukan

K etika rindu menyapa, dan hati serasa memaksa bibir untuk berteriak " Ya, Aku rindu diaaaaaaaa. Dia yang aku cintaaaaa! ". Lalu aku harus apa? tak ada yang bisa aku perbuat selain mengambil nafas berkali-kali, berharap rasa yang begitu berat itu pergi. Memangnya, menahan rasa rindu kepada seseorang yang belum tentu merindukan kita itu mudah? tidak. Sama sekali tidak. Yang hanya adalah air mata yang memaksa keluar mendobrak kelopak mata.  Dan malam ini, malam yang sunyi, ditemani melody sederhana dari sebuah gitar. Aku ingin menyampaikan beberapa pesan untuk seseorang. Ya, seseorang disana yang aku cintai. Seseorang disana yang mencintai orang lain. Seseorang disana yang telah melupakanku. Seseorang disana yang sudah pergi jauh. Dan seseorang disana yang sudah berubah. Bukan menjadi Power Ranger ataulau Satria Bima. Namun dia, dia yang berubah berpindah haluan. Dia yang tak ingin jatuh cinta, selain mencintainya. Hai kau, kau yang aku cintai. Bagaimana kabarmu? Apa k...

Dikala Cinta Tak Setinggi Bukit Delta

B erbinarkan mahkota langit yang kusebut senja. Lihatlah! langit sore ini begitu indah. Hiaskan warna orange dan kuning pastel, juga biru muda berhamburkan putih kecoklatan. Suara-suara burung pun, melengkapi layang-layang yang sengaja diterbangkan para liliput senja. Sahabat, ingin ku berteriak sebutkan asma-Nya. Memperbolehkan langit tau bahwa aku begitu mencintainya. Sahabat, aku tahu, mungkin ini hanya berbicara soal waktu. Waktu yang sengaja disediakan Allahku yang terhebat. Waktu yang bersedia berjalan bersama kenangan-kenangan menyenangkan atau menyakitkan yang suatu saat nanti takkan bisa terulang. Sahabat, bukit Delta melambai-lambai. Terasa jauh. Tak sanggup aku berjalan, melewati batu-batu dan kerikil tajam. Ini hanya tentang waktu. Dimana terlalu singkat saat aku diizinkan untuk mengenalinya. Sesosok makhluk yang tak jelas asal-usulnya. Aku ingin seperti burung-burung tadi, yang bernyanyi di langit lepas. Aku ingin seperti layang-layang, yang kuat menghadapi te...

Kau boleh kembali, kalau kau ingin

"Waktunya pulang, selama kesempatan kedua masih ada. Pintu kembali masih terbuka!" ujar si beruang kepada gadis manis bertopi hitam itu.  *** "M asihkah kau menerima permintaan maafku? dan, aku ingin kembali." Gadis bertopi hitam itu terus merenungi kesalahannya. Hutan yang gersang pun melengkapi suasana siang itu. Kalau saja terik matahari itu semakin memanas, mungkin hutan sudah terbakar habis. Bersama batu tua berukuran besar, gadis itu duduk manis tanpa merasa terganggu dengan cuaca panas yang menimpa.  "Dari kemarin sore, aku sudah memaafkanmu." Seketika suara itu membuat si gadis menoleh kebelakang.  "Hah? sejak kapan kau berada disitu beruang? kau mengagetkanku. Dan kau mendengar apa yang tadi aku ucapkan?"  Gadis itu bertanya kepada si beruang. Namun, dia sama sekali tak mendapatkan jawaban. Beruang itu tetap diam, lalu menghampiri si gadis dengan tiba-tiba.  "Mau apa kau kesini?" tanya si gadis. ...