Hilangnya sesosok uswah dalam mengemban amanah

Ustadz Zaenal Muttaqien


Pagi itu.. kemarin. ya, tak seperti biasanya. aku terbangun karena bunyi alarm yang menunjukkan waktu 03.30 dengan sound COMIC SONIQ . dan aku terbangun dari mimpi yang aku lupakan setelah bangun. dan mataku juga terbuka saat aku bangun, karna saat aku tidur mataku tertutup.  seperti biasa, setiap pagi aku menyiapkan seragam dan langsung menyetrika di ruang depan rumahku. dilihatnya papahku tidak biasanya menyiapkan air hangat subuh-subuh untuk mandi. ada apa ini ? entahlah rasanya aku ingin hiraukan itu.
tak lama, waktu menunjukan pukul 04.00 WIB. setangah jam lagi adzan subuh berkumandang. papahku sudah selesai mandi. dan aku masih sibuk dengan seragam yang sedang disetrika. tiba-tiba papahku bilang ..

"teh, da gak bakal belajar. Ustadz Zaenal meninggal.."

"Innalillahi wainnailaihi roji'un.. Ustadz Zaenal mana pah ?"

"Ustadz Zaenal Muttaqien"

"kenapa?kapan?"

"tadi malem sekitar jam 21.00 . gatau kenapa makannya nanti mau kesana"

seketika tanganku gemetar, kaget, tak percaya. haruskah aku percaya ? aku tak mengininkan hal itu terjadi. kehilangan sesosok uswah, guru tercinta. beliau guruku, guru kami, guru kita semua.reflek aku matikan setrikaan langsung aku ambil hp LG hitam yang tersimpan dipinggirku. aku buka twitter dan langsung update tweet. semoga aku tak telat memberitahukan mereka. saat itu pula aku mention ke semua orang juga ke @info_persis.
pagi itu.. adzan subuh akhirnya berkumandang. langsung saja aku mandi dan menyelesaikan pekerjaan yang biasa aku lakukan setiap hari. jam 06.00 aku langsung ke sekolahku, Pesantren PERSIS Pajagalan tercinta. ternyata disekolahku sudah banyak manusia yang sudah tak asing aku lihat. alumni, teman-temanku, juga asatidz lainnya. mereka tengah bersiap pergi ke rumah Almarhum di daerah Cigondewah, Curug Rahayu.
tak lama, kami semua pergi dengan motor yang berbondong-bondong seperti pawai. tapi kami bukan sedang pawai, melainkan pergi ke rumah ustadz tercinta untuk menyolatkan juga mengantarkan jenazah beliau ke tempat peristirahatan terakhir. lumayan jauh dari Pajagalan. akhirnya kami sampai di Pesantren 54 Rahayu. disana sudah banyak manusia-manusia yang kini tidak aku kenali. hanya sebagian asatidz dan teman-temanku yang sudah sampai duluan.
entah kenapa, badanku terasa lemas. air mata yang sejak tadi subuh aku tahan, akhirnya bercucuran. badanku terasa seperti ada yang mendorong untuk segera cepat menyolatkan. saat itu, aku melaksanakan sholat jenazah. aaaahh, tak sadar yang sedang aku sholatkan adalah guruku sendiri. guru yang mengajarkanku Fiqih dengan kitab Bulughul Maram. aku pun tak sanggup membendung air mata yang memaksa untuk keluar.
setelah sholat jenazah, aku menghampiri Ustadz Dedeng yang dari tadi sedang duduk di pinggiran masjid. tanpa basa basi aku langsung bertanya apa penyebab Ustadz Zaenal meninggal. saat itu Ustadz Dedeng pun menceritakan kronologinya. ternyata Ustadz Zaenal terkena serangan Jantung mendadak, mungkin karena beliau pernah mempunyai riwayat menderita Stroke ringan. aaaaaaarrrghh tidaaaaak air mataku kembali memaksa untuk keluar. menyebalkan.
tak lama, setelah itu aku langsung pergi ke rumah almarhum yang tak jauh dari Pesantren untuk melihat keadaan istrinya. ternyata, dirumahnya pun banyak manusia yang aku tak kenal sedang menyalami istrinya yang sedang duduk tersipu sambil menangis. mungkin beliau sedang sedih karna ditinggalkan sang suami tercinta. aku pun sama, aku langsung menghampiri istrinya dan salam juga cipika cipiki sambil menahan tangis. tak begitu lama, aku langsung keluar karna jenazah akan segera di bawa pergi untuk di makamkan.
dan akhirnya, jenazah pun di bawa menuju pemakaman dengan ambulance yang berbunyi karena sirine yang menyala. juga bersama ratusan manusia yang mau ikut mengantarkan. aku dan teman-teman pun tak ingin ketinggalan ingin ikut juga mengantarkan sang Almarhum Ustadz tercinta. bersama ratusan orang kami pun segera pergi. lagi-lagi seperti pawai tapi bukan sedang pawai, melainkan mengantarkan jenazah untuk segera di makamkan. tak lama, sampai akhirnya ke pemakaman. jenazahpun dibawa keluar dari ambulance. para manusia laki-laki segera ke kuburan, sedangkan manusia perempuan yang termasuk diriku menunggu di gerbang pemakaman.
sudah. itulah pengabdian terakhirku pada ustadz tercinta. lelahnya aku saat pergi jauh-jauh untuk menyolatkan juga mengantarkan ke pemakaman, tak sebanding dengan almarhum yang sudah lelah mengajar kami dengan kesabaran dan selalu tersenyum menghadapi kami.

terimakasih ustadz.. 
terimakasih ustadz sudah sabar mendidik kami
terimakasih ustadz selalu tersenyum walau kami membuatmu kesal

maafkan kami..
maafkan kami yang selalu berharap ustadz tidak mengajar karna kami lelah ingin cepat pulang
maafkan kami  yang tidak semangat dalam mencari ilmu
maafkan kami yang sudah membuatmu kesal
maafkan kami atas segala kesalahan kami

banyak kata yang ingin aku sampaikan. namun apa daya. semua sudah terlambat percuma. tak ada lagi senyuman yang kami lihat dari seorang Ustadz Zaenal. tak ada lagi candaan yang kami dengar dari seorang Ustadz Zaenal. tak ada lagi. dan tak ada lagi.
andaikata kesempatan itu ada, aku tak akan menyianyiakan itu semua. tak ada yang tahu satu detik kemudian akan terjadi apa.

Rabu, 2 April 2014
- Risya Nur Rayhani -

in memorian; Selasa, 1 April 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini semacam sedang mencari jati diri..

Strange Night

Kutemukan Lembayung Bersama Cinta